Humas Seyogianya Cakap Menulis

Share post
Ilustrasi menulis. Foto: kompasiana.com

Sebagai penyalur informasi, profesi humas tidak bisa terlepas dari pekerjaan menulis.

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Kemampuan berkomunikasi seorang praktisi humas tak akan cukup, jika tanpa diiringi kecakapan menulis yang sudah menjadi kebutuhan. Sebagai komunikator perusahaan, komunikasi seorang humas memerlukan artikulasi melalui tulisan. Kemampuan menulis tersebut berguna dalam pembuatan siaran pers dan produk tulisan lainnya,  yang merupakan bagian dari tupoksi pekerjaan profesi humas. Tetapi, apakah kemampuan menulis humas hanya sekadar membuat siaran pers?

Rita Nurlita, Pranata Humas Ahli Muda Dinas Komunikasi Informasi dan Informatika Kota Depok menyangkal jika humas hanya berkewajiban menulis siaran pers saja. Disamping membuat siaran pers, kompetensi menulis seorang humas dibutuhkan untuk membuat laporan tahunan (annual report), menulis pidato yang akan dibacakan oleh pemimpin perusahaan, artikel, newsletter, advertorial, feature, story board dan script untuk konten di media sosial, opini, dan bahkan biografi.

Menurut Rita, kemampuan menulis bagi humas harus diasah. “Humas harus bisa menulis. Apalagi profesi humas berkaitan dengan memberikan informasi kepada publik,” ujarnya saat menjadi pembicara di acara Sharing Humas Kemenag yang diselenggarakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Jumat (18/11/2022) melalui Zoom yang dipantau HUMAS INDONESIA.

Bagi humas di level pemerintahan, artikel yang berkaitan dengan program kerja maupun kebijakan harus selalu menjadi perhatian. Tulisan yang dimuat oleh humas sejatinya menjadi

salah satu faktor yang menunjang peningkatan reputasi institusi.

Sebagai mantan jurnalis, Rita membagikan tips menulis versinya. Ada tiga hal yang mesti diperhatikan sebelum menulis, yakni perencanaan, tahap menulis, dan launching. Di tahap perencanaan, seorang praktisi humas harus menyiapkan ide tulisan, seperti misalnya angle pemberitaan dalam siaran pers.

“Biasanya, hari-hari besar nasional itu bisa dikupas jadi sebuah tulisan. Isu yang sedang hangat diperbincangkan, atau bahkan program kebijakan pemerintah yang berdampak bagi banyak orang serta penting untuk diketahui, juga bisa menjadi bahan tulisan,” jelasnya.

Proses kedua yakni tahap menulis. Pada tahap ini, humas perlu melakukan riset dan membuat outline. Seringkali dalam membuat tulisan, seseorang terjebak dan tidak tahu mengembangkan ataupun melanjutkan paragraf sebelumnya. Oleh karena itu, membuat outline bahasan dapat membantu. Adapun riset berguna khususnya untuk tulisan berjenis feature.

Tahap terakhir yakni launching. Humas perlu melakukan self editing sebelum pemberitaan tersebut dipublikasikan. Self editing meliputi mengecek tulisan yang salah ketik, maupun membenahi susunan gramatikal kalimat yang kurang sesuai.

Sebuah Tuntutan

Dilansir dari laman romelteamedia.com yang diakses Selasa (29/11/2022), menguasai ilmu jurnalistik adalah salah satu syarat utama menjadi praktisi humas. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa praktisi humas harus terampil menulis dengan baik dari segi substansi dan tata bahasa. Publik saat ini tidak hanya bergantung dengan wartawan dan media mainstream untuk mengakses informasi.

Masih dalam artikel yang sama, kemampuan menulis tersebut harus diimbangi dengan kompetensi mengelola media sosial. Dewasa ini, publik sudah menjadikan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter sebagai sarana berkomunikasi dan bertukar informasi. Oleh karenanya, humas perlu untuk terjun menyebarkan informasi melalui media sosial. (AZA)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas