Daya Tahan

Share post
republika.co.id

Hari ini membuat perencanaan jangka panjang sungguh begitu sulit. Musykil membangun asumsi-asumsi dan proyeksi terlalu panjang di tengah ragam gejolak yang mudah menerpa. Faktor utamanya adalah kemudahan informasi yang begitu cepat didapat dalam waktu relatif sekejap. Informasi yang mengalir cepat, membuat perencanaan yang tadinya sudah mapan, bisa berubah menyesuaikan situasi mutakhir.

Volatilitas situasi ini menggambarkan betapa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi situasi yang terus berubah. Pada situasi ini, aspek fundamental yang dimiliki terasa menjadi begitu berharga. Fundamental karakter, positioning, keuangan, kualitas produk, hingga loyalitas konsumen. Korporasi atau organisasi yang memiliki sejumlah aspek fundamental bagus, memang belum tentu tidak mengalami guncangan internal maupun eksternal atau terdisrupsi. Peluang untuk itu akan selalu ada. Pun potensi mengalami krisis.

Hanya, karena pertahanan kuat yang dimiliki, guncangan akibat volatilitas berbagai faktor itu relatif lebih mudah dikelola. Ada keluwesan menghadapi berbagai guncangan. Ada respons aktif menyikapi perubahan yang “tidak menyenangkan”. Pada akhirnya, ada adaptasi yang memadai untuk membuat guncangan yang muncul tidak menghancurkan kekuatan fundamental yang dimiliki.

Adaptasi terhadap berbagai perubahan adalah isu sangat krusial dalam kurun dua tahun terakhir. Adaptasi menawarkan sebuah potensi aset mental dan karakter kuat, yang hanya dimiliki oleh organisasi atau korporasi yang siap berubah kapanpun hal itu terjadi. Di dalam adaptasi itulah inovasi dan kreasi (baru) mendapatkan ruang untuk bermain. Kelenturan dalam beradaptasi dengan setiap perubahan atau benturan, bahkan krisis, membuat energi yang dikeluarkan untuk meresponsnya menjadi lebih efektif. Krisis, misalnya, tidak bisa dihadapi dengan energi perlawanan, melainkan harus diserap lalu direspons dengan sikap yang tepat untuk secara bersamaan mengalirkan recovery.

Anak Kandung Digital

Terlalu banyak energi kita selama ini tersalur untuk melawan aneka ragam benturan dan krisis yang sejatinya tidak kita kehendaki. Tapi apa boleh buat, inilah era yang membuat krisis, benturan, dan belakangan disrupsi mudah terjadi. Cepat datang dan (kadang) cepat pula pergi. Sebutlah misanya hoaks. Begitu cepat hoaks itu tiba-tiba datang. Bergerak menjadi viral ke mana-mana. Tanpa hitungan berjam-jam, sudah memenuhi seluruh dashboard media sosial kita. Akankah semua (hoaks) itu kita lawan dengan energi penuh? Atau kita serap, lalu serang balik dengan energi dan sasaran yang tepat dan efektif?

Saya cenderung memilih skema kedua. Tidak setiap serangan harus dilawan dengan seragan balik (counter attack) yang frontal pula. Alangkah lebih baik jika energi serangan itu diserap lebih dahulu, diolah dan analisa model dan konten serangannya, lalu baru dikonter dengan pola serangan yang terukur dan tepat sasaran.

Hoaks adalah benturan peradapan terkini yang lahir dari “anak kandung” dunia digital. Bersama fake news dan hate speech, mereka adalah saudara kembar yang tak layak untuk ditiru dan diadaptasi. Justru harus “dibunuh” dengan kecerdasan sikap dan ketahanan fundamental organisasi atau korporasi yang sehat dan kuat. Bagaikan virus, jika daya tahan tubuh seseorang prima, maka virus pun akan pergi, enggan bersemi di tubuh manusia. Pun dengan organisasi dan korporasi.

Inilah era yang menuntut organisasi dan korporasi benar-benar memiliki daya tahan kuat menghadapi gejolak lingkungan makro, benturan, dan potensi krisis yang kapan pun bisa muncul. Mari, pastikan organisasi Anda kuat dan punya vitamin daya tahan tinggi. Selamat Tahun Baru! Asmono Wikan


Share post

Tentang Penulis
Asmono Wikan

Asmono Wikan

Pemimpin Redaksi Humas Selengkapnya...
ARTICLE (3)