'Public Relations': Pendukung atau Nadi?

Share post
Sumber : https://tmd29.org

Beberapa waktu lalu, ada kasus menarik terkait public relations (PR) di sebuah lembaga riset. Di sana, PR yang mayoritas diisi oleh para fungsional pranata humas, dikategorikan sebagai salah satu SDM pendukung. Padahal, keberhasilan mewujudkan outcome lembaga manapun sejatinya tidak lepas dari peran PR.

Dalam pelajaran biologi, saya mempelajari istilah “nadi”. Menurut berbagai sumber yang saya himpun, nadi atau pembuluh nadi atau arteri berarti pembuluh darah berotot yang membawa darah dari jantung. Memeriksa denyut nadi bisa menjadi tanda apakah jantung bekerja dengan baik atau tidak. Denyut nadi adalah denyutan arteri dari gelombang darah yang mengalir melalui pembuluh darah sebagai akibat dari denyutan jantung. Dari sejumlah definisi dan pemahaman tersebut, sebagai awam, saya mencoba menyinkronkan dengan fungsi PR dalam sebuah institusi.

Fungsi PR adalah sebagai communicator, relationship, backup management, dan good image maker (Ruslan, 2007).

Dalam buku Principles of Management, yang ditulis Terry (2001) peran PR sebagai salah satu fungsi manajemen yang tidak dapat dipisahkan, yaitu melaksanakan dukungan manajemen atau menunjang kegiatan lain seperti manajemen promosi, pemasaran, operasional, dan sebagainya.

Secara harfiah, PR dengan fungsi dan perannya tersebut cenderung bermakna bahwa posisi PR adalah sebagai fungsi pendukung saja. Sedangkan, dari sisi makna istilah, rasanya banyak yang menyepakati fungsi PR sangatlah penting. Disadari atau tidak, PR adalah “nadi” sebuah lembaga, bukan hanya sekadar fungsi pendukung.

Onong Uchyana Effendy (2007) dalam bukunya Hubungan Masyarakat, mengutip Scott M Cutlip dan Allen Center dalam buku Effective Public Relations, memberikan penjelasan tentang konsep fungsional PR. Salah satu pernyataan yang dikutipnya tentang fungsi PR adalah to counsel management on ways and means on shaping organization’s policies and operations to gain maximum public acceptance. Kalimat tersebut bermakna bahwa salah satu fungsi PR adalah memberikan masukan kepada pimpinan atau manajemen mengenai jalan dan cara menyusun kebijakan dan operasionalisasi organisasi.

Agar dapat diterima secara baik oleh publik dan tanpa harus mengalami krisis, lembaga membutuhkan PR. Tugas PR dalam mengelola krisis komunikasi bukanlah hal ringan. Tugas berat bukanlah porsi elemen SDM pendukung. Bayangkan, jika krisis komunikasi tidak tertanggulangi, bagaimana nasib institusi tersebut? Jika dianalogikan pada nadi yang berhenti berdenyut, artinya boleh jadi sama dengan bisnis perusahaan yang berhenti “bernapas”. Di sinilah fungsi dan peran PR sebagai “nadi” institusi bisa dibuktikan.

Organisasi Sehat

Dalam tubuh manusia, denyut nadi menandakan adanya kehidupan. Dalam filosofi organisasi, kehidupan berarti adanya dinamika. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang dinamis. Organisasi sehat adalah organisasi yang memiliki PR yang sehat dan dinamis, yang siap melakukan tugas dengan profesional, bukan sekadar melaksanakan dan memposisikan sebagai SDM pendukung.

Adalah tugas kita sebagai praktisi PR untuk terus belajar, mengambil peran dan memahami kondisi serta menjaga kesehatan organisasi. Atau secara tidak sadar kita telah terjebak memaknai fungsi PR sebatas fungsi pendukung, bukan “nadi” dalam sebuah institusi.


Share post

Tentang Penulis
Dyah Rachmawati

Dyah Rachmawati

Humas LIPI, Ketua Umum Ikatan Pranata Humas Indonesia Selengkapnya...
ARTICLE (1)