Brigjen Dedi Prasetyo, Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri: Belajar Tiap Hari

Share post
Asah daya analitiknya dengan rajin membaca, bergaul dan berdiskusi dengan rekan-rekan media. Roni/PR Indonesia

Dedi tak memungkiri, tugas terberat sepanjang 28 tahun berkarier di kepolisian adalah saat ia mengemban peran sebagai humas, tepatnya Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri.

“Humas itu setiap hari belajar,” kata Brigadir Jendral (Brigjen) Dedi Prasetyo, Karopenmas Divisi Humas Kepolisian Republik Indonesia (Polri), mengutip pernyataan pimpinannya, Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Pol Muhammad Iqbal. Memang begitulah yang ia rasakan. Baginya, humas bukanlah pekerjaan mudah. Sebaliknya, memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Setiap hari ia harus selalu membaca, mengetahui peristiwa terkini dan menguasai permasalahan. “Menjawab pertanyaan dari wartawan itu juga seperti sedang ujian, lho,” imbuhnya saat ditemui PR INDONESIA di ruang kantornya di Jakarta, Selasa (12/2/2019), seraya tertawa.

Pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, 26 Juli 1968, yang belum setahun menjadi praktisi humas itu mengaku masih dalam fase beradaptasi dan pembelajar cepat hingga saat ini. Maklum, Dedi tak memiliki latar belakang ilmu komunikasi. Sepanjang kariernya, ia lebih banyak ditempatkan di bidang SDM.    

Untuk itu, langkah pertama ia lakukan adalah memahami tugas dan tanggung jawab pokoknya, serta visi dan misi pimpinan. Saat ini humas telah menjadi fungsi utama kepolisian. Sementara satu dari tiga kebijakan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mewujudkan kepolisian yang profesional, modern dan terpercaya adalah tentang manajemen media. “Di sinilah peran kami. Kami harus mampu menjadi king maker yang menguasai dan mengendalikan isu baik di mainstream media maupun media sosial, menggalang media, mengamplifikasi dan mengkapitalisasi seluruh isu yang sifatnya positif, hingga memitigasi hal negatif yang bisa mengganggu citra kepolisian,” ujar mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu fasih.

Dedi bersama tim dituntut mampu menangkap seluruh isu yang terjadi selama 1 x 24 jam setiap hari. Pemantauan isu dikumpulkan dan dilaporkan setiap dua kali sehari tiap pukul 4 subuh dan 10 malam. Data yang terkumpul selanjutnya dikelola untuk dibuat agenda setting. “Inilah wujud kesungguhan kami melakukan langkah proaktif untuk mengontrol isu. Media pun mendapatkan informasi dari sumber yang tepat,” ujarnya.

Dedi mengaku selama menjadi humas, aktivitas paling menantang adalah ketika ia dihadapkan dengan isu politik. “Saya harus dapat memilih diksi yang tepat. Salah sedikit, yang komplain bukan hanya kabareskrim, tapi bisa sampai tingkat wakapolri, bahkan kapolri,” ujar pria yang sepanjang tahun politik ini bersama timnya aktif melakukan patroli siber dan literasi digital goes to campus/school.

Menulis 

Untuk mengejar ketertinggalan dan mengasah daya analitiknya, ia rajin membaca, bergaul dan berdiskusi dengan rekan-rekan media. Pria yang menjadikan sosok Boy Rafly sebagai salah satu panutan di humas kepolisian itu juga tak antikritik. Segala teguran dan keluhan yang ditujukan kepadanya, ia jadikan masukan dan pelajaran berharga.   

Dedi punya dua cara ampuh melepas penat di tengah padatnya aktivitas: menulis buku dan melakukan off-road. Sayang, kedua aktivitas itu sulit dilakukan semenjak ia menjadi humas. Hikmahnya, penganut prinsip Jawa urip iku urup dan penulis buku The Next Leader Polri 2030 itu lebih fokus menghabiskan waktu luang bersama keluarga tercinta. Ya, sudah 13 tahun anggota komunitas Jeep di Surabaya dan pendiri komunitas Jeep di Lumajang dan Semeru itu tinggal berjauhan bersama keluarga. Istri dan ketiga anaknya tinggal di Surabaya. (rtn)  


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas